Adm1nAr7, Author at Ciputra Artpreneur

Author: Adm1nAr7

Ananda Sukarlan Siap Gelar Jakarta New Year Concert’s 2019 Millenial Marzukiana

Ananda Sukarlan akan menggelar konser Jakarta New Year Concert’s 2019 Millenial Marzukiana pada Minggu, 13 Januari 2019 mendatang di Theater Ciputra Artpreneur. Dalam konser ini, Ananda Sukarlan akan mengajak 5 musisi terbaik yang lahir dari generasi milenial, yakni Jessica Sudarta, Finna Kurniawati, Anthony Hartono, Mariska Setiawan, Aryo Widhawan.

Demikian disampaikan Ananda Sukarlan dalam jumpa pers di Gallery Ciputra Artpreneur, Selasa (18/12). Dalam konser tersebut, Ananda Sukarlan akan membawakan beberapa lagu karya Ismail Marzuki seperti Selendang Sutera, Melati di Tapal Batas, Gugur Bunga, Halo-halo Bandung, Indonesia Pusaka, dan lain-lain.

“Mengapa saya memilih Ismail Marzuki? Karena beliau adalah musisi besar yang dimiliki Indonesia. Banyak komposer-komposer dari Eropa dan Asia yang sudah memainkan lagu Ismail Marzuki. Jadi saya juga ingin berbuat sesuatu untuk lebih memperkenalkan karya-karya Ismail Marzuki ke dunia internasional,” katanya.

Ananda Sukarlan juga akan membawakan beberapa selingan lagu yakni “Malin Kundang”, legenda dari Minang. Lagu ini akan dinarasikan oleh Handry Satriago, CEO dari General Electric (GE) Indonesia, dan juga cuplikan opera dari novel epik “Erstwhile” karya Rio Haminoto yang mengisahkan kisah cinta selama 700 tahun.

Rachmi Aziah, putri Ismail Marzuki berterima kasih kepada Ananda Sukarlan, Ciputra Artpreneur, dan Kaya.ID karena telah mengangkat kembali karya-karya Ismail Marzuki. Bagi dia, konser Ananda Sukarlan ini sangat spesial karena lagu-lagu Ismail Marzuki dihadirkan dalam format musik klasik dalam bentuk orkestra dan solois.

Nita Kartikasari, CEO Lumina Kaya Indonesia menambahkan, karya Ismail Marzuki merupakan warisan kekayaan seni dan budaya Indonesia yang harus dilestarikan dan dipromosikan ke dunia internasional. Dia berharap agar keluarga-keluarga di Indonesia merayakan Tahun Baru 2019 dengan menonton konser Ananda Sukarlan.

Harga tiket Jakarta New Year’s Concert Millenial Marzukiana ini berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 3 juta untuk empat kategori. Kaya.ID memberikan penawaran spesial Early Bird yakni diskon sebesar 25 persen untuk pembelian sampai tanggal 31 Desember 2018. Tiket konser bisa dibeli melalui Loket.com dan Kaya.ID melalui nomor 08111002280.

Teks : Bonivasius Pramudya
Foto : Mitra Prasetya

 

 

Millenial Marzukiana New Year Concert in Jakarta featuring Ananda Sukarlan

Ananda Sukarlan will be the highlight in a Jakarta New Year Concert on Sunday, January 13, 2019 at the Ciputra Artpreneur Theater. In this concert, Ananda Sukarlan will be inviting five young musicians from the millennial generation, namely Jessica Sudarta, Finna Kurniawati, Anthony Hartono, Mariska Setiawan and Aryo Widhawan.

This was conveyed by Ananda Sukarlan to the media at the Ciputra Artpreneur Gallery, on Tuesday (18/12). In the concert, Ananda Sukarlan will present several songs by Ismail Marzuki such as Selendang Sutera, Melati in Tapal Batas, Gugur Bunga, Halo-halo Bandung, Indonesia Pusaka, and others.

“Why Ismail Marzuki? He is one of Indonesia’s greatest musicians. Many composers from Europe and Asia have played Ismail Marzuki songs so I, as an Indonesian, would want to do something better to introduce Ismail Marzuki’s works internationally, “he said.

Ananda Sukarlan will also present several interlude songs, namely “Malin Kundang”, a legend from Minang. The song will be narrated by Handry Satriago, CEO of General Electric (GE) Indonesia, as well as featuring opera footage from the epic novel “Erstwhile” by Rio Haminoto which tells a 700-year old love story.

Rachmi Aziah, the daughter of Ismail Marzuki, thanked Ananda Sukarlan, Ciputra Artpreneur, and Kaya.ID for bringing back her father’s works. For her, Ananda Sukarlan’s concert will be very special because Ismail Marzuki’s songs were previously only presented in the form of classical, orchestras, and soloists.

Nita Kartikasari, CEO of Lumina Kaya Indonesia said that the works of Ismail Marzuki is a legacy of Indonesian art and culture that must be preserved and promoted internationally. She hopes that many families in Indonesia will celebrate the New Year by coming to this concert.

The ticket prices for Millennial Marzukiana range from Rp 500.000 to Rp 3 million in four categories. Kaya.ID provides an Early Bird special offer, which is a 25 percent discount for purchase until December 31, 2018. Concert tickets can be purchased through Loket.com and Kaya.ID via 08111002280.

Text : Bonivasius Pramudya & Kum Hoong Kong
Photo : Mitra Prasetya

Ciputra Artpreneur Gelar Diskusi “Melacak Lukisan Palsu” dan Pameran “Maestro Beserta Epigonnya”

Jakarta, 22 November 2018 – Ciputra Artpreneur bekerjasama dengan Perkumpulan Pecinta Senirupa Indonesia dan Kepustakaan Populer Gramedia menggelar diskusi dan peluncuran buku bertema “Melacak Lukisan Palsu”, disertai dengan pameran lukisan “Maestro Beserta Para Epigonnya”. Kegiatan yang dihadiri oleh para kolektor, seniman, wartawan, pengelola galeri/museum, akademisi, serta para kritikus seni rupa dilangsungkan di Galleri Ciputra Artpreneur.

Presiden Direktur Ciputra Artpreneur Rina Ciputra Sastrawinata dalam sambutannya menyampaikan bahwa sangat sulit memberantas praktik pemalsuan lukisan di Indonesia. Karenanya, pemberantasan praktik pemalsuan lukisan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu atau dua pihak saja. Perlu sinergi yang kuat antara berbagai pihak mulai pemerintah, kolektor, pengelola museum, kurator, dan pihak lain.

“Oleh karenanya, dalam diskusi buku ini diharapkan ada sebuah solusi tentang bagaimana cara menghentikan praktik pemalsuan lukisan ini. Seperti diketahui juga bahwa Ayah saya, Pak Ciputra, punya kedekatan dengan Hendra Gunawan. Sebagai bentuk kecintaannya terhadap karya-karya Hendra, ayah saya pun memutuskan untuk membangun sebuah museum untuk melestarikan karya-karya seniman tersebut,” katanya.

Ketua Perkumpulan Pecinta Senirupa Indonesia (PPSI) Budi Setiadharma menekankan bahwa setiap pengelola Museum di Indonesia harus menghindari pemasangan karya seni yang asal-usulnya masih tidak jelas. Alasannya, hal tersebut akan membuka jalan bagi praktik perdagangan yang tidak benar, terutama dalam dunia seni rupa.

“Menurut saya, tidak masalah jika seorang seniman ingin meniru gaya melukis seorang maestro seni. Tapi janganlah mentah-mentah meniru karyanya, karena ini termasuk praktik pemalsuan. Tapi tirulah saja gaya melukisnya. Dari sinilah, PPSI ingin mendorong para seniman muda untuk lebih kreatif menghasilkan karya-karyanya sendiri,” katanya.

Agus Dermawan, salah satu pembicara menyampaikan bahwa asli atau tidaknya sebuah karya seni itu bisa bisa dilihat dari tiga aspek, yakni aspek visual, aspek uji laboratorium, dan berdasarkan catatan sang seniman. Jika secara visual tidak meyakinkan, maka perlu dilakukan tes forensik di laboratorium. Dan jika masih belum meyakinkan lagi, maka kita bisa melacaknya berdasarkan dari catatan karya sang seniman.

“Sayangnya, di Indonesia saat ini masih belum banyak fasilitas laboratorium forensik untuk menguji keaslian sebuah lukisan. Selain itu, mayoritas seniman Indonesia juga belum memiliki catatan hasil karya mereka. Hal-hal inilah yang perlu didorong agar praktik pemalsuan lukisan ini bisa diberantas,” kata Agus.

Syakieb Sungkar, pembicara diskusi mengatakan bahwa buku “Melacak Lukisan Palsu” merupakan catatan terbaru yang membahas seluk beluk jaringan bisnis lukisan palsu di Indonesia. Perlu diketahui bahwa sejak dua puluh tahun belakangan ini lukisan para maestro Indonesia banyak digemari para kolektor. Contohnya lukisan karya Raden Saleh, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, Lee Man Fong, Le Mayeur dan Affandi. Harga lukisannya sudah mencapai puluhan hingga ratusan milyar rupiah. Hal ini membuat para pemalsu lukisan untuk membuat duplikat gaya melukis para maestro tersebut.

“Dan untuk lebih meyakinkan para pembeli, lukisan itu diberikan tanda tangan palsu, lengkap dengan sertifikat yang dipalsukan. Selain itu, kanvas dan cat pun direkayasa agar nampak tua. Mereka juga menggunakan bingkai dan paku tua agar nampak asli,” kata Syakieb.

Pameran lukisan “Maestro dan Para Epigonnya” ini menampilkan 26 lukisan karya Dullah, Gung Man, Affandi, Kartika Affandi, Men Sagan, Arie Smit, Kok Poo, Inanta, I Gusti Agung Wiranata, I Gusti Agung Galuh, Kepakisan, dan Walter Spies.Acara ini berlangsung mulai dari 22 – 25 November 2018.

Teks : Bonivasius Pramudya & Kum Hoong Kong
Foto : Mitra Prasetya

 

 

Forum “Tracking Fake Paintings”
and Exhibition “Maestro and Their Epigon” held at Ciputra Artpreneur

Jakarta, November 22nd, 2018 – Ciputra Artpreneur collaborated with the Association of Indonesian Art Lovers and Popular Literature Gramedia to organise a forum cum book launch entitled “Tracking Fake Paintings”, accompanied by an exhibition “Maestro with Its Epigons”.

The Forum, which was attended by collectors, artists, journalists, gallery and museum managers, academics and art critics was held at the Ciputra Artpreneur Galleries 1 & 2.

President Director Ciputra Artpreneur, Rina Ciputra Sastrawinata said that it was very difficult to eradicate the practice of painting falsification in Indonesia. She highlighted that eradicating the practice of paintings forgery was not only the responsibility of one or two parties. Strong synergy is needed between various parties involving the government, art collectors, museum managers, curators, and artists.

“Therefore through the discussion a today’s forum, I hope we can work towards a solution on how to stop the practice of painting falsification. As many are aware that my father had a close relationship with master Hendra Gunawan and as a form of his love for the master’s works, he decided to build a museum to preserve the works of Hendra,” she added.

The Chairman of the Association of Indonesian Art Lovers (PPSI) Budi Setiadharma stated that every museum manager in Indonesia must avoid the installation of artworks that having unclear background. According to him, this will pave the way for improper trading practices, especially in the art world.

“In my opinion, it doesn’t matter if an artist wants to imitate the style of painting from a maestro. We may copy the style but don’t just imitate his work, because it amounts to a practice of falsification.

Through this event, PPSI wants to encourage young artists to be more creative in producing their own works, “he said.

Agus Dermawan, curator and one of the Forum speakers said the authenticity of an artwork can be seen from three aspects, namely visual aspect, forensic laboratory test, and based on the artist’s notes. If the visual is unconvincing, it is necessary to do a forensic test in the laboratory. And if it is still not convincing, then we can trace its authenticity based on the record of the artist’s work.

“Unfortunately, in Indonesia today there are few forensic laboratory facilities which verify the authenticity of a painting. In addition, the majority of Indonesian artists also do not take notes of their work. These steps need to be encouraged and paid attention to if we want to reduce the practice of painting falsification, “said Agus.

Syakieb Sungkar, the other Forum speaker said that the book “Tracking Fake Paintings” is the latest record that discusses the ins and outs of the fake painting business network in Indonesia. It should be noted that in the past twenty years, the paintings of Indonesian maestros have been favored by domestic and foreign collectors. For example, the paintings of Raden Saleh, Hendra Gunawan, Sudjojono, Lee Man Fong, Le Mayeur and Affandi are sought after by these collectors. The price of their paintings has reached billions of rupiah. This trend led to the practice of painting falsification.

“And to convince the buyers, they give a fake signature to the fake paintings, complete with fake certificates. In addition, the canvas and paint were designed in order to look old. They also use old frames and nails so that the painting looks original,” Syakieb added.

The exhibition “Maestro and Their Epigon” features 26 paintings by Dullah, Gung Man, Affandi, Kartika Affandi, Men Sagan, Arie Smit, Kok Poo, Inanta, I Gusti Agung Wiranata, I Gusti Agung Galuh, Kepakisan, and Walter Spies.

This exhibition runs from November 22-25, 2018.

Text : Bonivasius Pramudya & Kum Hoong Kong
Photo : Mitra Prasetya

Musical Story “Indonesian Children Love Story” Attended by Over 1,000 Children

Jakarta, November 20th, 2018 – More than 1,000 children attend the Ciputra Artpreneur Theater on Tuesday (20/11) to watch the musical tale “Love Story of Indonesian Children”, an event collaboration between Ciputra Artpreneur and the Indonesian Love Community. These children are from various background, ranging from orphanage children, children with special needs, marginalized children, and also children from international schools in Jakarta.

The event was enlivened by 75 performers, starting with the appearance of senior singer Eyang Titiek Puspa and Joy Tobing, Miss Indonesia 2016 Natasha Mannuela, and Winson Family Storyteller, Sabina and Sabian, young puppeteer Gibran Papadimitriou, classical Javanese dancer Rohro Corleone, Graciella Sanjaya, Rafi and Rara who collided with the FEW Reading House Community, the Gudang Dolanan Indonesia community, and many more.

This musical fairy tale is not only for entertaining, but also aims to provide inspiration and benefits for children who are present to always work, be creative, and sharpen their talents to be useful in the future.

This event will also emphasized self-confidence and motivate them to achieve their dreams by holding the “Inspira Award”. “Inspira Award” is an awarding event for 6 outstanding children various background. The recipient, Sukma Galuh Prasetyo from SOS Children Village Cibubur who won various swimming championships; Sandi and Sendi, children with intellectual disability who have achievements in badminton; Gabby Zefanya, a deaf teenager who act as digital painter and English writer.

The fund raising of this social event will be donated to earthquake victims in Palu and Lombok, especially the children. The show was also recorded on CD and will be disseminated to all disaster victims, to entertain, inspire, and motivate them.

Text : Trinita Novita
Editor : Boni Pramudya
Photo : Mitra Prasetya

Mengenal Seni Rupa dan Seni Pertunjukan di Ciputra Artpreneur

Jakarta, 14 November 2018 – Ciputra Artpreneur dikenal sebagai satu-satunya pusat pengembangan seni di Indonesia yang memiliki theater berstandar internasional dan galleri atau area multifungsi yang menjadi tempat terselenggaranya berbagai acara pertunjukkan seni baik lokal maupun internasional, serta museum yang menampilkan karya seni maestro Indonesia. Daya tarik inilah yang membuat Sekolah Victory Plus (SVP) mengajak siswa-siswinya untuk mempelajari seni rupa dan seni pertunjukkan di Ciputra Artpreneur.

Sebanyak 70 siswa-siswi Sekolah Victory Plus beserta para pendamping diajak berkeliling museum Ciputra Artpreneur untuk mengenal seni rupa karya maestro modern Indonesia, Hendra Gunawan, dari mulai sejarah hingga karya-karyanya Hendra. Mereka berkesempatan melihat 32 lukisan dan 18 sketsa karya Hendra Gunawan, dimana koleksi ini merupakan karya Hendra Gunawan terbanyak di Indonesia. Selain itu, siswa-siswi ini juga menyaksikan hologram Hendra Gunawan yang menceritakan kehidupannya saat berada di dalam penjara.

Tidak hanya berkeliling Museum, siswa-siswi SVP pun diajak melihat Artshow di Ciputra Artpreneur Gallery. Mereka dapat menyaksikan video mapping karya Hendra Gunawan di layar proyeksi sepanjang 60 x 12 meter, dimana layar proyeksi ini diakui sebagai yang terpanjang oleh MURI.

Setelah puas melihat Artshow, mereka pun berkesempatan mempelajari lebih jauh tentang seni pertunjukan di Ciputra Artpreneur Theater. Mereka diajak berkeliling untuk melihat ruangan dan fasilitas yang dimiliki dari sebuah theater berstandar internasional. Mereka pun mendapatkan pengalaman unik dengan tampil di panggung theater menyanyikan lagu “We Will Rock You” dari band rock legendaris Queen, yang saat ini sedang marak dibicarakan karena filmnya “Bohemian Rhapsody”.

Kunjungan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi siswa-siswi Sekolah Victory Plus tentang sejarah dan karya seni rupa maestro Indonesia khususnya Hendra Gunawan, dan bagaimana sebuah seni pertunjukan berlangsung di Ciputra Artpreneur.

 

Teks: Trinita Novita
Senior Editor: Boni Pramudya
Foto: Mitra Prasetya

 

Ciputra Artpreneur Jadi Venue Utama Event Indonesian Women’s Forum 2018

Ciputra Artpreneur mendapat kehormatan karena menjadi venue utama penyelenggaraan Indonesian Women’s Forum (IWF) 2018, pada 8-9 November 2018. IWF 2018 merupakan ajang selebrasi pencapaian terbaik para wanita Indonesia, baik di dunia karier korporasi, maupun sebagai wanita wirausaha. Femina selaku pemrakarsa acara berhasil menggandeng dua kolaborator utama, yaitu Google Indonesia dan Procter & Gamble Indonesia.

Presiden Direktur Ciputra Artpreneur Rina Ciputra Sastrawinata, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudirini juga turut hadir dalam acara bertema “Bringing the Best of Indonesian Women”, IWF 2018 merupakan paket lengkap yang memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi dan situasi terkini yang terkait pengembangan bisnis, karier, serta isu-isu penting perempuan dan gender. Di dalamnya ada rangkaian konferensi, workshops (masterclass) dan festival produk lokal yang ditujukan bagi para wanita karier dan wirausaha.

“Acara ini akan menjadi ajang pertemuan wanita bekerja terbesar di Indonesia dengan estimasi peserta dan pengunjung lebih dari 1.000 wanita per hari,” ungkap Petty S. Fatimah, Pemimpin Redaksi Femina dan Direktur Muda Pengembangan Editorial Femina Group.

Keseluruhan rangkaian konferensi dan workshop akan bertempat di Ciputra Artpreneur Jakarta. Kegiatan berawal di pagi hari dengan sesi konferesi. Seusai konferensi, peserta dapat memilih belajar lebih dalam melalui kelas-kelas masterclass. Ada tidak kurang dari 17 masterclass dengan para pembicara dan praktisi hebat dengan topik-topik pembelajaran yang menjawab tantangan usaha dan kerja di era industry 4.0. Daftar tema diskusi panel dalam konferensi dan topik-topik masterclass, akan disertakan secara terpisah.

Teks : Boni Pramudya, dari sumber internet www.femina.co.id
Foto : Mitra Prasetya

4th HSE Awards 2018 Digelar di Ciputra Artpreneur

Memasuki tahun keempat, PT Ciputra Residence secara continue melaksanakan program Health, Safety & Environment Awards 2018 (HSE Awards 2018). Dalam awarding tahun ini sebanyak 42 kontraktor dan sub-kontraktor yang bekerjasama dengan PT Ciputra Residence akan dinilai untuk menjadi yang terbaik, yang dibagi ke dalam 9 kategori pemenang dan satu kategori apresiasi.

HSE Awards 2018 ini merupakan tahap pendewasaan bagi PT Ciputra Residence dalam mengimplementasikan sekaligus membudayakan budaya Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) atau HSE di setiap denyut pembangunan proyek yang dilaksanakannya.

Keberhasilan PT Ciputra Residence dalam menjalankan program HSE ini tidak lepas dari komitmen perusahaan dan berbagai pihak terkait, dalam hal ini para mitra kontraktor yang telah bersama-sama mengimplementasikan, serta membudayakan HSE dalam setiap pekerjaannya. Hasilnya, sepanjang 2017 dan 2018, PT Ciputra Residence mampu menekan angka kecelakaan kerja secara maksimal menuju zero accident and zero loss time injury.

Menurut Director PT Ciputra Residence, Mary Okto Sihombing, budaya HSE PT Ciputra Residence berbanding lurus dengan langkah pemerintah melalui kementerian ketenagakerjaan dalam mendorong berbagai pihak untuk semakin berperan aktif menurunkan tingkat kecelakaan kerja di Indonesia. Langkah. PT Ciputra Residence dengan menggelar Health, Safety & Environment Awards 2018 (HSE Awards 2018) dinilainya sebagai wujud serta mendorong upaya pemerintah dalam mensukseskan program “Kemandirian Masyarakat Indonesia Berbudaya K3 Tahun 2020”.

Tercatat, berdasarkan data dari BPJS Ketenagakerjaan jumlah kasus kecelakaan kerja di Indonesia terus menurun. Tahun 2015 terjadi kecelakaan kerja sebanyak 110.285 kasus, sedangkan tahun 2016 sejumlah 105.182 kasus, sehingga mengalami penurunan sebanyak 4,6%. Sedangkan sampai Agustus tahun 2017 terdapat sebanyak 80.392 kasus.

Okto mengatakan, perusahaan sangat mendukung berbagai langkah pemerintah dalam upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya berbudaya HSE. Untuk itu, dalam pelaksanaanya PT Ciputra Residence menekankan agar semua pihak harus turun tangan untuk bekerja sama serta mengimplementasikannya, agar budaya HSE di tempat kerja dan lingkungan masyarakat umum di seluruh proyek proyek PT Ciputra Residence benar-benar terwujud.

”Penerapan budaya HSE merupakan bagian integral pembangunan nasional untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing Indonesia. Kami di PT Ciputra Residence juga menyadari betul pentingnya penerapan budaya HSE dalam setiap pembangunan proyek kami. Dan acara yang kita laksanakan hari ini merupakan wujud apresiasi yang kami berikan kepada seluruh mitra kontraktor kami yang secara sadar dan berkomitmen mewujudkan budaya HSE dengan baik,” kata Okto saat memberikan keterangan pers di hadapan sejumlah awak media, di acara “PT Ciputra Residence HSE Awards 2018” di Ciputra Artpreneur, Ciputra World 1 Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018.

Wajib Jalankan HSE

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Associate Director PT Ciputra Residence Lalitya Ciputra Sastrawinata menjelaskan, sebagaimana tema pokok bulan K3L yang digemakan oleh pemerintah tahun ini ”Melalui Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kita Bentuk Bangsa yang Berkarakter”, PT Ciputra Residence telah mengokohkan diri sebagai satu-satunya perusahaan yang komit dan secara berkelanjutan sejak 2015 memberikan apresiasi kepada para mitra kontraktornya yang telah melaksanakan budaya HSE secara konsisten.

“Apabila HSE terlaksana dengan baik maka kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat ditekan, biaya-biaya yang tidak perlu dapat dihindari sehingga dapat tercapai suasana kerja yang aman, nyaman, sehat, dan klimaknya tentu dapat meningkatnya produktivitas kerja,” kata Lalitya Ciputra Sastrawinata.

Menurut Lalitya Ciputra Sastrawinata, pihaknya merasa bangga menjadi sebagai pengembang pertama di Indonesia yang menyelenggarakan HSE Awards (sejak 2015). PT Ciputra Residence menerapkan HSE Management secara ketat bukan semata-mata untuk memenuhi persyaratan regulasi dan komitmen dengan pihak ketiga, namun lebih kepada kepedulian perusahaan untuk memastikan proses pembangunan berjalan dengan baik.

Bagi PT Ciputra Residence, lanjut dia, implementasi Heath Safety & Environment Management merupakan instrumen investasi perusahaan dalam memperlancar proses produksi, bukan sebagai cost yang membebani anggaran proyek. Oleh karena itu, PT Ciputra Residence sejak 2015 setiap kontraktor yang akan menjadi mitra kerja diwajibkan memiliki komitmen yang sama dengan PT. Ciputra Residence untuk menjalankan HSE sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP).

“Saat ini, semua kontraktor dan subkontraktor yang mengerjakan proyek-proyek Ciputra Residence kami wajibkan memahami dan implementasi HSE dengan disiplin dan penuh tanggung jawab. Dengan begitu, kita bersama-sama mampu melindungi pekerja kita dari kecelakaan kerja yang merupakan aset perusahaan,” kata Lalitya Ciputra Sastrawinata.

Penerapan manajemen HSE di lingkungan PT Ciputra Residence berdampak positif terhadap prosedur kerja perusahaan, sehingga terjamin kualitas hasil kerjanya. Tidak hanya itu, beberapa mitra kontraktor baru yang menjadi kandidat dalam proses penilaian semakin bertambah dan tidak sedikit pula yang berhasil menjadi yang terbaik dalam ajang PT Ciputra Residence Health, Safety & Environment Awards tahun ini.

“Hal ini juga sebagai pemicu bagi para mitra kontraktor lainnya untuk saling berlomba menjadi yang terbaik dalam memahami dan menjalankan program ini dengan bersunggguh-sungguh dan bertanggung jawab.” Lalitya Ciputra Sastrawinata.

(Teks dan foto dari siaran pers PT Ciputra Residence)

Live Painting “Tribute to 100 Years Hendra Gunawan” di Asian Para Games 2018

Kegiatan Asian Para Games 2018 menjadi momentum bagi Ciputra Artpreneur untuk mendukung para seniman penyandang disabilitas dalam hal publikasi karya-karya seni yang berkualitas kepada masyarakat luas. Dukungan ini terlihat melalui kolaborasi antara INAPGOC, Artbut.ID, dan Ciputra Artpreneur dalam kegiatan live painting bertema “Tribute To 100 Years Hendra Gunawan ” yang berlangsung di Plaza Timur Stadion Gelora Bung Karno, pada 6-13 Oktober 2018.

Menurut Presiden Direktur Ciputra Artpreneur Jakarta, Rina Ciputra Sastrawinata, Asian Para Games ini merupakan momentum penting yang harus dimanfaatkan para penyandang disabilitas untuk menunjukkan bahwa mereka juga mampu untuk mencetak prestasi yang positif. Prestasi ini bisa dilakukan dalam berbagai bidang, sesuai dengan bakat dan talenta masing-masing.

Rina menyampaikan bahwa Ciputra Artpreneur sebagai sebuah lembaga yang fokus untuk mengembangkan bidang seni dan budaya, tentunya juga wajib peduli untuk mendukung dan memfasilitasi para penyandang disabilitas yang mempunyai prestasi di bidang seni. Dukungan tersebut kemudian diwujudkan melalui kolaborasi antara INAPGOC, Artbrut ID dan Ciputra Artpreneur mengadakan kegiatan live painting “Tribute To 100 Years Hendra Gunawan “.

“Apalagi objeknya adalah lukisan dari maestro seni Indonesia, yakni Hendra Gunawan, yang mayoritas karyanya dikoleksi oleh ayah saya Dr (HC) Ir Ciputra. Dalam hal ini, tentunya kita sangat mendukung kegiatan live painting seperti ini,” kata Rina.

Nawa Tunggal, salah satu penggagas dan koordinator acara live painting “Tribute To 100 Years Hendra Gunawan ” berpendapat senada. Menurut dia, Asian Para Games 2018 di Indonesia menjadi momentum penting bagi komunitas penyandang disabilitas neurotransmiter untuk menunjukkan eksistensinya kepada masyarakat. Salah satu penyandang disabilitas neurotransmitter yang difasilitasi adalah Dwi Putra yang akrab disapa Pakwi.

“Selain itu juga ada beberapa komunitas yang tergabung di Art Brut.ID yang juga ingin menunjukkan eksistensinya dalam menghasilkan karya seni berkualitas. Khusus untuk Pakwi ini punya ketertarikan yang sangat kuat terhadap lukisan-lukisan Hendra Gunawan yang memang punya tema sosial kuat,” kata Nawa yang juga penggiat di Artbrut.ID ini.

Menpora Imam Nahrawi pun mengunjungi booth Ciputra Artpreneur pada Minggu sore (7/10) dan menyaksikan live painting beberapa karya lukisan Hendra Gunawan dan Momo si maskot #AsianParaGames2018 yang telah dilukis oleh Pak Wi.

Teks : Boni Pramudya

Kemeriahan Konser “Tanda Mata” Glenn Fredly

Konser “Tanda Mata Glenn Fredly Untuk Yovie Widianto” telah berjalan sukses pada Minggu malam, 30 September 2018, di Ciputra Artpreneur. Konser yang berlangsung selama 3,5 jam ini menampilkan beberapa musisi dari berbagai generasi, mulai dari generasi musisi senior hingga musisi milenial antara lain Grace Simon, Harvey Malaihollo, Ikang Fawzi, Marcello Tahitoe, Gerald Situmorang, Eva Celia, Iwa K, serta musisi muda Kafin Sulthan dan Woro Mustiko.

“Tanda Mata” merupakan konser tahunan yang diselenggarakan oleh Glenn Fredly sebagai bentuk apresiasi Glenn terhadap karya-karya musisi Indonesia. Sebelumnya konser “Tanda Mata” diperuntukkan bagi Slank dan Ruth Sahanaya. Tahun ini, Tanda Mata dipersembahkan untuk Yovie Widianto, sebagai musisi yang menghasilkan karya lagu-lagu pop tentang cinta.

“Lagu-lagu Yovie itu bukan hanya mempengaruhi saya dalam dalam berkarya, tapi lagu-lagu cinta Yovie ini adalah bentuk langsung mengenai apa yang terjadi, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar. At the same time, ini menjadi pesan cinta buat banyak orang. Saya sepakat sama Yovie, lagu cinta itu lagu yang tidak akan pernah ada habisnya dilekang masa. Cinta itu banyak angle-nya, saat bicara tentang cinta kita pasti bicara yang menghidupi, memberikan inspirasi”, ungkap Glenn saat menjelaskan mengenai “Konser Tanda Mata Untuk Yovie Widianto”.

Konser “Tanda Mata” kali ini berbarengan dengan ulang tahun Glenn Fredly. Sebanyak 22 lagu Yovie Widianto dinyanyikan oleh Glenn Fredly antara lain “Katakan Saja”, “Juwita”, “Cerita Cinta”, “Satu Mimpiku”, dan “Andai Dia Tahu”. Beberapa musisi Indonesia pun turut hadir menyaksikan konser Tanda Mata ini, seperti Bunga Citra Lestari, Aura Kasih, dan Ryan – vokalis band D’Masiv.

(Teks : Trinita Novita, Fotografer : Fauzan Azhima)

Konser Journey of Syahrini Sukses Digelar di Ciputra Artpreneur

Jakarta, 20 September 2018 – 10 tahun sudah perjalanan karir Syahrini di industri musik Indonesia. Kesuksesan karir musiknya ini dirayakan dengan pagelaran konser Journey of Syahrini (JOS) 10 Tahun Jambul Khatulistiwa pada Kamis, 20 September 2018 di Ciputra Artpreneur Theater. Konser ini berlangsung sukses, meriah dan dihadiri lebih dari 1.000 penggemar dari dalam dan luar negeri.

Syahrini atau yang juga biasa disapa ‘Princess Syahrini’ atau ‘Incess’ ini membawakan sekitar 20 lagu, berkolaborasi dengan beberapa musisi ternama Indonesia, seperti Rendy Pandugo, Tompi, dan Glenn Fredly. Beberapa lagu yang sempat populer seperti ‘Jangan Memilih’, ‘Gubrak Gubrak Jeng Jeng Jeng’, ‘Sesuatu’ dinyanyikan di konser tunggalnya, membuat lebih dari 1.000 penonton ikut melantunkan lirik lagu tersebut.

Fashion yang dipakai Syahrini pun terlihat cetar membahana. Syahrini dibalut dengan pakaian dengan desain yang luar biasa megah dari beberapa desainer ternama Indonesia, Sebastian Gunawan, Didi Budiarjo, Eddy Betty, dan Rinaldy Yunardi, desainer aksesoris yang baru-baru ini mendesain mahkota untuk Madonna di acara Met Gala 2018.

(Teks : Trinita Novita, Foto : Mitra Prasetya)

“Elle Style Awards 2018” Digelar di Ciputra Artpreneur

Even akbar “Elle Style Awards 2018” digelar di Ciputra Artpreneur Jakarta, Jumat (14/9). Acara ini menampilkan kegiatan fashion show dan pemberian penghargaan kepada para insan yang memiliki kontribusi di bidang seni, fashion, dan lifestyle.

 

Acara tersebut dimulai pukul 20.00 melalui proses registrasi di Gallery 1 dan Gallery 2 Ciputra Artpreneur. Lalu pada pukul 20.30, segenap tamu undangan mulai memasuki ruang acara utama, yakni di Gallery 3 Ciputra Artpreneur Jakarta.

 

Berikut adalah daftar lengkap penerima penghargaan even “Elle Style Awards 2018” :

 

Actress of the Year : Marsha Timothy
Actor of the Year : Iko Uwais
Musician of the Year : Dipa Barus
Artist of the Year : Mulyana Mogus
Photographer of the Year : Hilarius Jason
Model of the Year : Laras Sekar
Fashion People of the Year : Ira Kwa
Makeup Artist (Foreo) : Bubah Alfian
Emerging Brand of the Year : TANGAN
Accessories Designer of the Year : Litany
Designer of the Year : Toton Januar
Outstanding Contribution to Fashion : Susan Budihardjo
Inspiring Woman of the Year : Alamanda Shantika
Outstanding Achievement : Retno L.P. Marsudi
Lifetime Achievement : Maria Farida

Di acara tersebut, Presiden Direktur Ciputra Artpreneur Jakarta Rina Ciputra Sastrawinata berkenan memberikan plakat dan piagam penghargaan kepada Susan Budihardjo. Acara pemberian penghargaan tersebut berakhir sekitar pukul 21.30, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan after-party.

 

(Teks : Boni Pramudya, Foto : Mitra Prasetya)

Mahasiswa Universitas Parahyangan Berkunjung ke Ciputra Artpreneur

Sebanyak 161 mahasiswa dan 6 dosen pembimbing Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan Bandung berkunjung ke Ciputra Artpreneur Jakarta. Kunjungan para civitas akademika Universitas Katolik Parahyangan Bandung ini dalam rangka belajar tentang cara mendesain sebuah bangunan pertunjukan musik yang bertaraf internasional.

Menurut A. Danang Widaryanto, salah satu dosen dari Universitas Katolik (Unika) Parahyangan Bandung, para mahasiswa arsitektur tersebut perlu diperkenalkan kepada berbagai model arsitektur bangunan, salah satunya bangunan pertunjukan musik.

“Tujuannya adalah untuk memperkaya para mahasiswa dengan beragam model atau desain bangunan arsitektur. Khusus untuk mahasiswa kami yang saat ini berada semester lima, kami ingin mencoba memperkenalkan mereka dengan model arsitektur bangunan pertunjukan musik,” kata Danang.

Danang melihat bahwa Ciputra Artpreneur Jakarta merupakan sebuah objek bangunan yang sangat menarik untuk dipelajari. Selain memiliki standar internasional untuk bangunan pertunjukan, Ciputra Artpreneur Jakarta juga sangat unik karena memiliki keragaman jenis dan fungsi bangunan yakni terdiri dari Theater, Museum, dan Gallery.

Ditambahkan Danang, keunikan lainnya dari Ciputra Artpreneur Jakarta adalah letak bangunannya yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan, yakni Lotte Shopping Avenue di Ciputra World 1 Jakarta. Dalam kunjungan ini, dosen pembimbing menekankan para mahasiswanya untuk mempelajari tentang desain interior, penataan sistem akustik, dan model integrasi bangunannya.

“Dengan demikian, mereka punya banyak referensi dan pembanding tentang bagaimana mendesain sebuah bangunan pertunjukan musik. Tentunya, kami juga akan memperkenalkan mereka untuk belajar tentang model-model bangunan yang lain, seperti stadion, gedung bertingkat, dan lainnya,” kata Danang.

Para mahasiswa dan dosen ini juga berkesempatan mengunjungi Museum Ciputra Artpreneur yang saat ini tengah memamerkan 32 lukisan dan 18 sketsa dari maestro seni rupa Indonesia, Hendra Gunawan. Setelah dari Museum, segenap mahasiswa dan dosen lalu melanjutkan kunjungannya ke Theater Ciputra Artpreneur.

Presiden Direktur Ciputra Artpreneur Jakarta Rina Ciputra Sastrawinata menyampaikan bahwa Ciputra Artpreneur Jakarta terdiri dari Gallery, Museum, dan Theater. Sampai sekarang, Ciputra Artpreneur Jakarta sudah meraih beberapa penghargaan internasional dan nasional, antara lain :

  1. Gold Winner dalam ajang penghargaan FIABCI Prix d’Exellence Award 2016, di Panama City.
  2. Dua penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI), yaitu: Galeri pameran dengan layar proyeksi terbesar, dan Theater pertunjukan di lantai tertinggi (terletak di lantai 13)
  3. Gold Winner dalam ajang penghargaan REI (Real Estate Indonesia) Property Awards 2016 Kategori Purpose Build.

“Ciputra Artpreneur bertujuan untuk mengembangkan industri kreatif Indonesia melalui kegiatan-kegiatan pemberdayaan berbasis seni dan budaya dengan cakupan yang luas mulai dari seni rupa, seni kriya dan desain, seni arsitektur, seni pertunjukan, hingga seni musik,” kata Rina.

Mengakrabkan Seniman Indonesia Dengan Digital Art

Semakin berkembangnya kemajuan teknologi mengharuskan masyarakat untuk selalu berubah dan beradaptasi mengikuti perkembangan yang ada. Begitu juga dengan seniman yang sudah mulai menggunakan teknologi digital untuk berekspresi menghasilkan karya seninya. Puntjung Wratsongko dan Adi Panuntun berbagi pengalamannya dalam menggunakan media digital untuk sarana berkaryanya dalam Talkshow Digital Art: Thinking Beyond Large-Scale Digital Screen pada Sabtu 11 Agustus 2018, sebagai salah satu rangkaian acara Pameran 100 Tahun Hendra Gunawan di Ciputra Artpreneur.

Muhammad Adi Panuntun, dikenal sebagai praktisi dibidang video mapping, dan juga merupakan Co-Founder & CEO PT Sembilan Matahari. Sembilan Matahari merupakan video mapping terbaik di Indonesia, yang terdiri dari kelompok anak muda kreatif asal Bandung. Mereka telah meraih penghargaan di Jepang, Moscow, dan Berlin. Salah satu karya yang terkenal yaitu video mapping di Gedung Sate (Bandung) dan Museum Fatahillah (Jakarta).

Pada Talkshow ini, Adi Panuntun menjelaskan seperti apa itu video mapping dan berbagi cerita pengalamannya dalam membuat video mapping. Salah satu hasil karyanya yang ada di Ciputra Artpreneur adalah video mapping Hendra Gunawan. Adi Panuntun membuat reinterpretasi dari lukisan Hendra Gunawan. Mereplikasi atau menginterpretasi sebuah lukisan Hendra Gunawan kedalam digital sehingga lukisan terlihat bergerak. “Kita menginterpretasi gerakannya akan seperti apa sih kalau misalnya lukisan ini hidup”. Video mapping ini salah satu alat untuk menginterpretasikan sesuatu dari 2 dimensi menjadi 3 dimensi.

Puntjung Wratsongko atau yang akrab disapa ‘Kang Puntjung’, merupakan praktisi di dunia grafis desain, art director, juga managing director PT Translucent. Kang Puntjung membahas tentang ‘Medium Now’, sebuah media alternatif lain selain video mapping yang bisa digunakan seniman untuk sarana berkaryanya. Dalam digital art, kita dapat bereksperimen dengan media-media baru seperti kinetic, Augmented Realty (AR), Virtual Reality (VR), dan LED. Kang Puntjung juga berbagi pengalamannya bereksperimen dengan menggunakan berbagai macam medium yang berkembang saat ini.

Melalui Talkshow ini diharapkan peserta memiliki wawasan yang semakin luas mengenai digital art dan lebih banyak bereksperimen dengan berbagai macam medium digital. Peserta juga diajak untuk lebih banyak eksplorasi ide-ide, jangan takut bereksperimen, dan tidak terkekang hanya di dalam satu ide, lebih baik bereksplorasi menggabungkan ide-ide baru dengan ide-ide yang sudah ada. Talkshow ini didukung oleh Epson yang menyediakan proyektor interaktif dimana kita bisa langsung menulis atau menggambarkan sesuatu pada bahan presentasi yang ditampilkan proyektor menggunakan pulpen elektronik.

(Teks : Trinita Novita)