News & Artciles – Ciputra Artpreneur

Category: News & Artciles

Rose Pandanwangi Bernyanyi di Perayaan Ulang Tahunnya yang ke-90 di Ciputra Artpreneur

Jakarta, 27 Januari 2019 – Musik seriosa dan keroncong yang merupakan musik klasik asli Indonesia identik dikenal sebagai musik lawas, musik yang umumnya digemari oleh kalangan orang tua, sehingga di era modern dan milenial saat ini terlupakan. Minat generasi muda sangat rendah terhadap musik tersebut. Untuk melestarikannya, Rose Pandanwangi dan S. Sudjojono Center bekerja sama dengan Ciputra Artpreneur ingin memberikan edukasi kepada para generasi muda maupun tua terhadap musik seriosa dan keroncong melalui acara Kisah Mawar “90 Tahun Untuk Rose Pandanwangi untuk Seriosa dan Keroncong” yang telah diselenggarakan pada Minggu, 27 Januari 2019 di Ciputra Artpreneur Theater.

Rose Pandanwangi dikenal sebagai salah satu pelopor penyanyi seriosa yang bisa membawakan kedua genre musik seriosa dan keroncong dengan sangat baik. Beliau merupakan penyanyi favorit presiden Soekarno yang telah berkarir lebih dari 60 tahun. Beliau berharap, melalui acara Kisah Mawar “90 Tahun Untuk Rose Pandanwangi untuk Seriosa dan Keroncong” yang dibalut dengan konsep talkshow dan penampilan musik seriosa dan keroncong, musik klasik seperti ini kembali memiliki tempat dalam masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial. Acara ini juga diselenggarakan dalam rangka perayaan ulang tahun diva seriosa Rose Pandanwangi yang ke-90.

Beberapa pembicara talkshow yang membahas tentang perkembangan industri musik keroncong dan seriosa diantaranya seperti Rose Pandanwangi, Ananda Sukarlan, Intan Soekotjo, Ervina Simarmata, Ninok Leksono, Sharifah Faizah Syed Mohammed (Dosen Senior Universiti Teknologi MARA Malaysia), dan Imam D. Kamus (Akademisi dan Pendiri Sarekat Krontjong dan Dawai Nusantara).

Selain talkshow, acara dimeriahkan dengan penampilan duet penyanyi keroncong legendaris Sundari Soekotjo dengan putrinya Intan Soekotjo, penampilan Ervina Simarmata yang membawakan lagu “Nurlela”, pembacaan puisi karya S. Sudjojono oleh Sapardi Djoko Damono. Acara berlanjut dengan penampilan Nikodemus Lukas melalui iringan piano Ananda Sukarlan membawakan lagu yang berasal dari puisi S. Sudjojono, serta yang paling ditunggu-tunggu penampilan dari Rose Pandanwangi menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka”.

Teks: Trinita Novita
Foto: Mitra Prasetya

 

 

Rose Pandanwangi Singing at
Her 90th Birthday Celebration at Ciputra Artpreneur

 

Jakarta, 27 January 2019 – Seriosa and keroncong music, which is an original ‘classical’ music from Indonesia, is often labelled as “old” music that is generally favored by the elderly and that it is forgotten amongst the millennial generation. The young generation’s interest towards Seriosa and keroncong music is very low. To preserve it, Rose Pandanwangi and S. Sudjojono Center, in collaboration with Ciputra Artpreneur, want to educate the young and old on seriosa and keroncong music through Kisah Mawar “90 Tahun Untuk Rose Pandanwangi untuk Seriosa dan Keroncong” that was held on Sunday, 27 January 2019 at the Ciputra Artpreneur Theater.

Rose Pandanwangi is known as a pioneer of seriosa singing and someone who was able to perform both musical genres very well. She was President Soekarno’s favorite singer and had a career with more than 60 years in the Indonesia music world. She hopes that through the Kisah Mawar “90 Tahun Untuk Rose Pandanwangi untuk Seriosa dan Keroncong” event, which was presented via a concept of talk show and music performance, she could preserve seriosa and keroncong music in Indonesian society, especially amongst the millennial generation. This event was also held in conjunction with her 90th birthday celebration.

There were several well-known speakers who discussed about the growth of seriosa and keroncong music such as Rose Pandanwangi, Ananda Sukarlan, Intan Soekotjo, Ervina Simarmata, Ninok Leksono, Sharifah Faizah Syed Mohammed (Senior Lecturer at Universiti Teknologi MARA Malaysia), and Imam D. Kamus (Academis and Founder of Sarekat Krontjong dan Dawai Nusantara).

Besides the talk show, the event was enlivened by a duet between legendary keroncong singer Sundari Soekotjo and her daughter Intan Soekotjo, Ervina Simarmata singing “Nurlela” and poet Sapardi Djoko Damono reading a poem by S. Sudjojono. They were followed by performances by Nikodemus Lukas accompanied on the piano by Ananda Sukarlan, Lukas sang a song from S. Sudjojono’s poems, and the highlight of the afternoon being Rose Pandanwangi herself singing “Indonesia Pusaka”.

Text: Trinita Novita
Photo: Mitra Prasetya


 

 

Nostalgia Lagu-Lagu band Queen Melalui Konser Queen Night “We Are The Champions” di Ciputra Artpreneur Jakarta

Jakarta, 22 Januari 2019 – Bohemian Rhapsody, sebuah film mengenai band rock legendaris Queen yang menjadi urutan pertama di box office, ramai dibicarakan beberapa waktu lalu. Hal ini menginspirasi The Resonanz Music Studio untuk membawakan serangkaian lagu-lagu grup band rock Queen yang mendunia ini dalam konser Queen Night “We Are The Champions”. Para fans Queen maupun penikmat musik berkesempatan bernostalgia kembali dengan lagu-lagu ikonik dari band asal Inggris tersebut, melalui konser yang telah terselenggara pada Sabtu, 19 Januari 2019 di Ciputra Artpreneur Theater Jakarta.

Konser ini dimeriahkan oleh Jakarta Concert Orchestra, juara paduan suara di kompetisi dunia The Resonanz Children’s Choir dan Batavia Madrigal Singers, serta bintang tamu seperti Husein Alatas (Runner-up Indonesian Idol 2014), Lisa Depe, Farman Purnama, Fitri Muliati, Michelle Siswanto (biola), dan Elwin Hendrijanto (piano), yang tampil dibawah pimpinan konduktor ternama Avip Priatna.

Selama kurang lebih 2 jam berlangsungnya acara, ribuan penonton dimanjakan dengan lagu-lagunya yang sangat terkenal, mulai dari Bohemian Rhapsody, We Will Rock You, Somebody To Love, Don’t Stop Me Now, Love of My Life, Bicycle Race, I Want To Break Free, hingga We Are The Champions yang menjadi lagu penutup acara. Penampilan para musisi ini berhasil membuat ribuan penonton bernyanyi bersama dan beberapa kali memberikan standing applause.

Selamat atas kesuksesan konsernya dan penampilannya yang luar biasa!

Teks : Trinita Novita
Foto : Mitra Prasetya, Fauzan Azhima

 

 

Nostalgia With Queen’s Songs on Queen Night “We Are The Champions” Concert at Ciputra Artpreneur Jakarta

 

Jakarta, January 22nd, 2019 – Bohemian Rhapsody, a film about legendary rock band Queen that was very popular recently. This inspired The Resonanz Music Studio to present songs from the rock band Queen in the Queen Night concert “We Are The Champions”. Queen fans and music lovers have the opportunity to relish the iconic songs from this British rock band, through a concert that was held on Saturday, January 19, 2019 at Ciputra Artpreneur Theater Jakarta.

This concert was enlivened by Jakarta Concert Orchestra, award-winning the Resonanz Children’s Choir and Batavia Madrigal Singers, and guest stars Husein Alatas (Runner-up Indonesian Idol 2014), Lisa Depe, Farman Purnama, Fitri Muliati, Michelle Siswanto (violin), and Elwin Hendrijanto (piano), all performing under well-known conductor Avip Priatna.

Clocking around 2 hours , the thousand-strong audience was entertained by the famous and iconic Queen’s songs, such as Bohemian Rhapsody, We Will Rock You, Somebody To Love, Don’t Stop Me Now, Love of My Life, Bicycle Race, I Want To Break Free, and We Are The Champions which was the finale of the event. Throughout the performance, the audience sang along together and accorded a standing applause for the performers.

Congratulations on the successful concert and the amazing performance!

Text : Trinita Novita
Photo : Mitra Prasetya, Fauzan Azhima

Ananda Sukarlan Siap Gelar Jakarta New Year Concert’s 2019 Millenial Marzukiana

Jakarta, 18 Desember 2018 – Ananda Sukarlan akan menggelar konser Jakarta New Year Concert’s 2019 Millenial Marzukiana pada Minggu, 13 Januari 2019 mendatang di Theater Ciputra Artpreneur. Dalam konser ini, Ananda Sukarlan akan mengajak 5 musisi terbaik yang lahir dari generasi milenial, yakni Jessica Sudarta, Finna Kurniawati, Anthony Hartono, Mariska Setiawan, Aryo Widhawan.

Demikian disampaikan Ananda Sukarlan dalam jumpa pers di Gallery Ciputra Artpreneur, Selasa (18/12). Dalam konser tersebut, Ananda Sukarlan akan membawakan beberapa lagu karya Ismail Marzuki seperti Selendang Sutera, Melati di Tapal Batas, Gugur Bunga, Halo-halo Bandung, Indonesia Pusaka, dan lain-lain.

“Mengapa saya memilih Ismail Marzuki? Karena beliau adalah musisi besar yang dimiliki Indonesia. Banyak komposer-komposer dari Eropa dan Asia yang sudah memainkan lagu Ismail Marzuki. Jadi saya juga ingin berbuat sesuatu untuk lebih memperkenalkan karya-karya Ismail Marzuki ke dunia internasional,” katanya.

Ananda Sukarlan juga akan membawakan beberapa selingan lagu yakni “Malin Kundang”, legenda dari Minang. Lagu ini akan dinarasikan oleh Handry Satriago, CEO dari General Electric (GE) Indonesia, dan juga cuplikan opera dari novel epik “Erstwhile” karya Rio Haminoto yang mengisahkan kisah cinta selama 700 tahun.

Rachmi Aziah, putri Ismail Marzuki berterima kasih kepada Ananda Sukarlan, Ciputra Artpreneur, dan Kaya.ID karena telah mengangkat kembali karya-karya Ismail Marzuki. Bagi dia, konser Ananda Sukarlan ini sangat spesial karena lagu-lagu Ismail Marzuki dihadirkan dalam format musik klasik dalam bentuk orkestra dan solois.

Nita Kartikasari, CEO Lumina Kaya Indonesia menambahkan, karya Ismail Marzuki merupakan warisan kekayaan seni dan budaya Indonesia yang harus dilestarikan dan dipromosikan ke dunia internasional. Dia berharap agar keluarga-keluarga di Indonesia merayakan Tahun Baru 2019 dengan menonton konser Ananda Sukarlan.

Harga tiket Jakarta New Year’s Concert Millenial Marzukiana ini berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 3 juta untuk empat kategori. Kaya.ID memberikan penawaran spesial Early Bird yakni diskon sebesar 25 persen untuk pembelian sampai tanggal 31 Desember 2018. Tiket konser bisa dibeli melalui Loket.com dan Kaya.ID melalui nomor 08111002280.

Teks : Bonivasius Pramudya
Foto : Mitra Prasetya

Millenial Marzukiana New Year Concert in Jakarta featuring Ananda Sukarlan

Ananda Sukarlan will be the highlight in a Jakarta New Year Concert on Sunday, January 13, 2019 at the Ciputra Artpreneur Theater. In this concert, Ananda Sukarlan will be inviting five young musicians from the millennial generation, namely Jessica Sudarta, Finna Kurniawati, Anthony Hartono, Mariska Setiawan and Aryo Widhawan.

This was conveyed by Ananda Sukarlan to the media at the Ciputra Artpreneur Gallery, on Tuesday (18/12). In the concert, Ananda Sukarlan will present several songs by Ismail Marzuki such as Selendang Sutera, Melati in Tapal Batas, Gugur Bunga, Halo-halo Bandung, Indonesia Pusaka, and others.

“Why Ismail Marzuki? He is one of Indonesia’s greatest musicians. Many composers from Europe and Asia have played Ismail Marzuki songs so I, as an Indonesian, would want to do something better to introduce Ismail Marzuki’s works internationally, “he said.

Ananda Sukarlan will also present several interlude songs, namely “Malin Kundang”, a legend from Minang. The song will be narrated by Handry Satriago, CEO of General Electric (GE) Indonesia, as well as featuring opera footage from the epic novel “Erstwhile” by Rio Haminoto which tells a 700-year old love story.

Rachmi Aziah, the daughter of Ismail Marzuki, thanked Ananda Sukarlan, Ciputra Artpreneur, and Kaya.ID for bringing back her father’s works. For her, Ananda Sukarlan’s concert will be very special because Ismail Marzuki’s songs were previously only presented in the form of classical, orchestras, and soloists.

Nita Kartikasari, CEO of Lumina Kaya Indonesia said that the works of Ismail Marzuki is a legacy of Indonesian art and culture that must be preserved and promoted internationally. She hopes that many families in Indonesia will celebrate the New Year by coming to this concert.

The ticket prices for Millennial Marzukiana range from Rp 500.000 to Rp 3 million in four categories. Kaya.ID provides an Early Bird special offer, which is a 25 percent discount for purchase until December 31, 2018. Concert tickets can be purchased through Loket.com and Kaya.ID via 08111002280.

Text : Bonivasius Pramudya
Photo : Mitra Prasetya

Karyawan DANONE AQUA Berkunjung ke Museum Ciputra Artpreneur

Jakarta, 14 Desember 2018 – Sebanyak 25 karyawan dari Danone AQUA mengunjungi Museum Ciputra Artpreneur pada Jumat (14/12). Kunjungan tersebut merupakan program rutin yang diadakan oleh divisi Keuangan Danone AQUA setiap 3 bulan. Kali ini mereka memilih kegiatan ‘out of the box’ yang bersifat mengasah kreatifitas, dengan berorientasi untuk mengasah otak kanan melalui kegiatan seni.

Untuk memenuhi harapan tersebut, tim Ciputra Artpreneur mengemas sebuah kegiatan yang dapat memberikan edukasi tentang seni Indonesia melalui tur Museum dan workshop Kolase.

Para karyawan diajak berkeliling Museum untuk mengenal karya-karya Hendra Gunawan dan perjalanan hidupnya. Mereka juga menyaksikan hologram Hendra Gunawan yang menceritakan kehidupan Hendra Gunawan saat berada di penjara. Hologram ini merupakan salah satu atraksi yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Museum Ciputra Artpreneur.

Setelah berkeliling Museum, aktivitas dilanjutkan dengan kegiatan workshop kolase. Workshop ini dilakukan melalui pendekatan seni yang dibuat dengan memadukan potongan-potongan gambar dari majalah atau koran bekas, kemudian ditempelkan pada suatu permukaan.

“Para karyawan antusias dengan kegiatan ini, khususnya workshop kolase. Melalui workshop ini, para karyawan dapat mengekspresikan kreativitas mereka dalam bentuk sebuah karya. Kami pun jadi lebih mengenal tiap-tiap individu yang biasanya bekerja dengan angka dan data, ternyata memiliki kreativitas yang diluar dugaan” ucap Irfan Gustami selaku Finance Manager Danone AQUA.

Teks : Trinita Novita
Foto : Mitra Prasetya

 

 

DANONE AQUA employees visit the Ciputra Artpreneur Museum

Jakarta, December 14, 2018 – A total of 25 employees from Danone AQUA visited the Ciputra Artpreneur Museum on Friday (12/14). The visit is a routine program held organised by the Danone AQUA Finance division every 3 three months. This time they chose an ‘out of the box’ activity which is to hone creativity, with an orientation to sharpen the right side of the brain through art activities.

To fulfill this expectation, the Ciputra Artpreneur team packed an activity that can provide education about Indonesian art through a tour of the Museum and a Collage workshop.

The employees were invited to tour the Museum to get to know the works of Hendra Gunawan and his life journey. They also witnessed the Hendra Gunawan hologram that told of Hendra Gunawan’s life while in prison. This hologram is one of the attractions that should not be missed when visiting the Ciputra Artpreneur Museum.

After touring the Museum, the activity was followed by a collage workshop. This workshop was carried out through combining pieces of pictures from old magazines or newspapers and then attached to a surface.

“The employees were enthusiastic about this activity, especially the collage workshop. Through this workshop, employees could express their creativity. We also became more familiar with each other and revealing unexpected creativity, otherwise we would just be working with numbers and data,” said Irfan Gustami, Danone AQUA’s Finance Manager.

Text : Trinita Novita
Photo : Mitra Prasetya

Ciputra Artpreneur Gelar Diskusi “Melacak Lukisan Palsu” dan Pameran “Maestro Beserta Epigonnya”

Jakarta, 22 November 2018 – Ciputra Artpreneur bekerjasama dengan Perkumpulan Pecinta Senirupa Indonesia dan Kepustakaan Populer Gramedia menggelar diskusi dan peluncuran buku bertema “Melacak Lukisan Palsu”, disertai dengan pameran lukisan “Maestro Beserta Para Epigonnya”. Kegiatan yang dihadiri oleh para kolektor, seniman, wartawan, pengelola galeri/museum, akademisi, serta para kritikus seni rupa dilangsungkan di Galleri Ciputra Artpreneur.

Presiden Direktur Ciputra Artpreneur Rina Ciputra Sastrawinata dalam sambutannya menyampaikan bahwa sangat sulit memberantas praktik pemalsuan lukisan di Indonesia. Karenanya, pemberantasan praktik pemalsuan lukisan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu atau dua pihak saja. Perlu sinergi yang kuat antara berbagai pihak mulai pemerintah, kolektor, pengelola museum, kurator, dan pihak lain.

“Oleh karenanya, dalam diskusi buku ini diharapkan ada sebuah solusi tentang bagaimana cara menghentikan praktik pemalsuan lukisan ini. Seperti diketahui juga bahwa Ayah saya, Pak Ciputra, punya kedekatan dengan Hendra Gunawan. Sebagai bentuk kecintaannya terhadap karya-karya Hendra, ayah saya pun memutuskan untuk membangun sebuah museum untuk melestarikan karya-karya seniman tersebut,” katanya.

Ketua Perkumpulan Pecinta Senirupa Indonesia (PPSI) Budi Setiadharma menekankan bahwa setiap pengelola Museum di Indonesia harus menghindari pemasangan karya seni yang asal-usulnya masih tidak jelas. Alasannya, hal tersebut akan membuka jalan bagi praktik perdagangan yang tidak benar, terutama dalam dunia seni rupa.

“Menurut saya, tidak masalah jika seorang seniman ingin meniru gaya melukis seorang maestro seni. Tapi janganlah mentah-mentah meniru karyanya, karena ini termasuk praktik pemalsuan. Tapi tirulah saja gaya melukisnya. Dari sinilah, PPSI ingin mendorong para seniman muda untuk lebih kreatif menghasilkan karya-karyanya sendiri,” katanya.

Agus Dermawan, salah satu pembicara menyampaikan bahwa asli atau tidaknya sebuah karya seni itu bisa bisa dilihat dari tiga aspek, yakni aspek visual, aspek uji laboratorium, dan berdasarkan catatan sang seniman. Jika secara visual tidak meyakinkan, maka perlu dilakukan tes forensik di laboratorium. Dan jika masih belum meyakinkan lagi, maka kita bisa melacaknya berdasarkan dari catatan karya sang seniman.

“Sayangnya, di Indonesia saat ini masih belum banyak fasilitas laboratorium forensik untuk menguji keaslian sebuah lukisan. Selain itu, mayoritas seniman Indonesia juga belum memiliki catatan hasil karya mereka. Hal-hal inilah yang perlu didorong agar praktik pemalsuan lukisan ini bisa diberantas,” kata Agus.

Syakieb Sungkar, pembicara diskusi mengatakan bahwa buku “Melacak Lukisan Palsu” merupakan catatan terbaru yang membahas seluk beluk jaringan bisnis lukisan palsu di Indonesia. Perlu diketahui bahwa sejak dua puluh tahun belakangan ini lukisan para maestro Indonesia banyak digemari para kolektor. Contohnya lukisan karya Raden Saleh, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, Lee Man Fong, Le Mayeur dan Affandi. Harga lukisannya sudah mencapai puluhan hingga ratusan milyar rupiah. Hal ini membuat para pemalsu lukisan untuk membuat duplikat gaya melukis para maestro tersebut.

“Dan untuk lebih meyakinkan para pembeli, lukisan itu diberikan tanda tangan palsu, lengkap dengan sertifikat yang dipalsukan. Selain itu, kanvas dan cat pun direkayasa agar nampak tua. Mereka juga menggunakan bingkai dan paku tua agar nampak asli,” kata Syakieb.

Pameran lukisan “Maestro dan Para Epigonnya” ini menampilkan 26 lukisan karya Dullah, Gung Man, Affandi, Kartika Affandi, Men Sagan, Arie Smit, Kok Poo, Inanta, I Gusti Agung Wiranata, I Gusti Agung Galuh, Kepakisan, dan Walter Spies.Acara ini berlangsung mulai dari 22 – 25 November 2018.

Teks : Bonivasius Pramudya
Foto : Mitra Prasetya

 

 

Forum “Tracking Fake Paintings” and Exhibition “Maestro and Their Epigon” held at Ciputra Artpreneur

Jakarta, November 22nd, 2018 – Ciputra Artpreneur collaborated with the Association of Indonesian Art Lovers and Popular Literature Gramedia to organise a forum cum book launch entitled “Tracking Fake Paintings”, accompanied by an exhibition “Maestro with Its Epigons”.

The Forum, which was attended by collectors, artists, journalists, gallery and museum managers, academics and art critics was held at the Ciputra Artpreneur Galleries 1 & 2.

President Director Ciputra Artpreneur, Rina Ciputra Sastrawinata said that it was very difficult to eradicate the practice of painting falsification in Indonesia. She highlighted that eradicating the practice of paintings forgery was not only the responsibility of one or two parties. Strong synergy is needed between various parties involving the government, art collectors, museum managers, curators, and artists.

“Therefore through the discussion a today’s forum, I hope we can work towards a solution on how to stop the practice of painting falsification. As many are aware that my father had a close relationship with master Hendra Gunawan and as a form of his love for the master’s works, he decided to build a museum to preserve the works of Hendra,” she added.

The Chairman of the Association of Indonesian Art Lovers (PPSI) Budi Setiadharma stated that every museum manager in Indonesia must avoid the installation of artworks that having unclear background. According to him, this will pave the way for improper trading practices, especially in the art world.

“In my opinion, it doesn’t matter if an artist wants to imitate the style of painting from a maestro. We may copy the style but don’t just imitate his work, because it amounts to a practice of falsification.

Through this event, PPSI wants to encourage young artists to be more creative in producing their own works, “he said.

Agus Dermawan, curator and one of the Forum speakers said the authenticity of an artwork can be seen from three aspects, namely visual aspect, forensic laboratory test, and based on the artist’s notes. If the visual is unconvincing, it is necessary to do a forensic test in the laboratory. And if it is still not convincing, then we can trace its authenticity based on the record of the artist’s work.

“Unfortunately, in Indonesia today there are few forensic laboratory facilities which verify the authenticity of a painting. In addition, the majority of Indonesian artists also do not take notes of their work. These steps need to be encouraged and paid attention to if we want to reduce the practice of painting falsification, “said Agus.

Syakieb Sungkar, the other Forum speaker said that the book “Tracking Fake Paintings” is the latest record that discusses the ins and outs of the fake painting business network in Indonesia. It should be noted that in the past twenty years, the paintings of Indonesian maestros have been favored by domestic and foreign collectors. For example, the paintings of Raden Saleh, Hendra Gunawan, Sudjojono, Lee Man Fong, Le Mayeur and Affandi are sought after by these collectors. The price of their paintings has reached billions of rupiah. This trend led to the practice of painting falsification.

“And to convince the buyers, they give a fake signature to the fake paintings, complete with fake certificates. In addition, the canvas and paint were designed in order to look old. They also use old frames and nails so that the painting looks original,” Syakieb added.

The exhibition “Maestro and Their Epigon” features 26 paintings by Dullah, Gung Man, Affandi, Kartika Affandi, Men Sagan, Arie Smit, Kok Poo, Inanta, I Gusti Agung Wiranata, I Gusti Agung Galuh, Kepakisan, and Walter Spies. This exhibition runs from November 22-25, 2018.

Text : Bonivasius Pramudya
Photo : Mitra Prasetya

Dongeng Musikal Cerita Cinta Anak Indonesia Dihadiri Lebih 1.000 Anak

Jakarta, 20 November 2018 – Lebih dari 1.000 anak-anak memenuhi Ciputra Artpreneur Theater pada Selasa (20/11) untuk menyaksikan dongeng musikal “Cerita Cinta Anak Indonesia”, sebuah event kerjasama antara Ciputra Artpreneur dan Komunitas Indonesia Cinta. Anak-anak yang hadir berasal berbagai kalangan, mulai dari anak-anak panti asuhan, anak-anak berkebutuhan khusus, kaum marjinal, hingga anak dari sekolah internasional di Jakarta dan sekitarnya.

Acara ini dimeriahkan oleh 75 pengisi acara, mulai dari penampilan penyanyi senior Eyang Titiek Puspa dan Joy Tobing, Miss Indonesia 2016 Natasha Mannuela, serta Winson The Storyteller Family, Sabina dan Sabian, dalang muda Gibran Papadimitriou, penari Jawa klasik Rohro Corleone, Graciella Sanjaya, Rafi dan Rara yang beradu peran dengan Komunitas Rumah Baca FEW, komunitas Gudang Dolanan Indonesia, dan masih banyak lagi.

Pementasan dongeng musikal ini tidak hanya untuk menghibur, namun juga bertujuan untuk memberikan inspirasi dan motivasi bagi anak-anak yang hadir untuk selalu berkarya, berkreativitas, dan mengasah bakat mereka agar dapat berguna di masa depan.

Acara ini juga akan menumbuhkan kepercayaan diri dan memotivasi anak-anak untuk berprestasi dan meraih mimpi mereka dengan adanya “Inspira Award”, pemberian penghargaan kepada 6 anak berprestasi dari anak-anak marjinal dan anak-anak berkebutuhan khusus. Penerima penghargaan tersebut diantaranya, Sukma Galuh Prasetyo dari SOS Children Village Cibubur yang menjuarai berbagai kejuaraan renang; Sandi dan Sendi, penyandang Tuna Grahita yang berprestasi di bidang bulutangkis; Gabby Zefanya, remaja penyandang tuna rungu yang berprestasi sebagai pelukis digital dan penulis dalam bahasa Inggris.

Hasil penggalangan dana untuk acara sosial ini akan disumbangkan untuk korban bencana gempa bumi di Palu dan Lombok. Pertunjukan ini pun direkam dan disebarluaskan dalam bentuk CD terutama ke daerah-daerah yang terkena bencana alam, untuk menghibur, menginspirasi, dan memotivasi para anak-anak yang menjadi korban untuk tetap semangat dan selalu berkarya.

Teks: Trinita Novita
Senior Editor: Boni Pramudya
Foto: Mitra Prasetya

 

Musical Story “Indonesian Children Love Story” Attended by Over 1,000 Children

Jakarta, November 20th, 2018 – More than 1,000 children attend the Ciputra Artpreneur Theater on Tuesday (20/11) to watch the musical tale “Love Story of Indonesian Children”, an event collaboration between Ciputra Artpreneur and the Indonesian Love Community. These children are from various background, ranging from orphanage children, children with special needs, marginalized children, and also children from international schools in Jakarta.

The event was enlivened by 75 performers, starting with the appearance of senior singer Eyang Titiek Puspa and Joy Tobing, Miss Indonesia 2016 Natasha Mannuela, and Winson Family Storyteller, Sabina and Sabian, young puppeteer Gibran Papadimitriou, classical Javanese dancer Rohro Corleone, Graciella Sanjaya, Rafi and Rara who collided with the FEW Reading House Community, the Gudang Dolanan Indonesia community, and many more.

This musical fairy tale is not only for entertaining, but also aims to provide inspiration and benefits for children who are present to always work, be creative, and sharpen their talents to be useful in the future.

This event will also emphasized self-confidence and motivate them to achieve their dreams by holding the “Inspira Award”. “Inspira Award” is an awarding event for 6 outstanding children various background. The recipient, Sukma Galuh Prasetyo from SOS Children Village Cibubur who won various swimming championships; Sandi and Sendi, children with intellectual disability who have achievements in badminton; Gabby Zefanya, a deaf teenager who act as digital painter and English writer.

The fund raising of this social event will be donated to earthquake victims in Palu and Lombok, especially the children. The show was also recorded on CD and will be disseminated to all disaster victims, to entertain, inspire, and motivate them.

Text : Trinita Novita
Editor & Translator : Boni Pramudya
Photo : Mitra Prasetya

Mengenal Seni Rupa dan Seni Pertunjukan di Ciputra Artpreneur

Jakarta, 14 November 2018 – Ciputra Artpreneur dikenal sebagai satu-satunya pusat pengembangan seni di Indonesia yang memiliki theater berstandar internasional dan galleri atau area multifungsi yang menjadi tempat terselenggaranya berbagai acara pertunjukkan seni baik lokal maupun internasional, serta museum yang menampilkan karya seni maestro Indonesia. Daya tarik inilah yang membuat Sekolah Victory Plus (SVP) mengajak siswa-siswinya untuk mempelajari seni rupa dan seni pertunjukkan di Ciputra Artpreneur.

Sebanyak 70 siswa-siswi Sekolah Victory Plus beserta para pendamping diajak berkeliling museum Ciputra Artpreneur untuk mengenal seni rupa karya maestro modern Indonesia, Hendra Gunawan, dari mulai sejarah hingga karya-karyanya Hendra. Mereka berkesempatan melihat 32 lukisan dan 18 sketsa karya Hendra Gunawan, dimana koleksi ini merupakan karya Hendra Gunawan terbanyak di Indonesia. Selain itu, siswa-siswi ini juga menyaksikan hologram Hendra Gunawan yang menceritakan kehidupannya saat berada di dalam penjara.

Tidak hanya berkeliling Museum, siswa-siswi SVP pun diajak melihat Artshow di Ciputra Artpreneur Gallery. Mereka dapat menyaksikan video mapping karya Hendra Gunawan di layar proyeksi sepanjang 60 x 12 meter, dimana layar proyeksi ini diakui sebagai yang terpanjang oleh MURI.

Setelah puas melihat Artshow, mereka pun berkesempatan mempelajari lebih jauh tentang seni pertunjukan di Ciputra Artpreneur Theater. Mereka diajak berkeliling untuk melihat ruangan dan fasilitas yang dimiliki dari sebuah theater berstandar internasional. Mereka pun mendapatkan pengalaman unik dengan tampil di panggung theater menyanyikan lagu “We Will Rock You” dari band rock legendaris Queen, yang saat ini sedang marak dibicarakan karena filmnya “Bohemian Rhapsody”.

Kunjungan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi siswa-siswi Sekolah Victory Plus tentang sejarah dan karya seni rupa maestro Indonesia khususnya Hendra Gunawan, dan bagaimana sebuah seni pertunjukan berlangsung di Ciputra Artpreneur.

 

Teks: Trinita Novita
Senior Editor: Boni Pramudya
Foto: Mitra Prasetya

 

Ciputra Artpreneur Jadi Venue Utama Event Indonesian Women’s Forum 2018

Jakarta, 8 November 2018 – Ciputra Artpreneur mendapat kehormatan karena menjadi venue utama penyelenggaraan Indonesian Women’s Forum (IWF) 2018, pada 8-9 November 2018. IWF 2018 merupakan ajang selebrasi pencapaian terbaik para wanita Indonesia, baik di dunia karier korporasi, maupun sebagai wanita wirausaha. Femina selaku pemrakarsa acara berhasil menggandeng dua kolaborator utama, yaitu Google Indonesia dan Procter & Gamble Indonesia.

Presiden Direktur Ciputra Artpreneur Rina Ciputra Sastrawinata, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudirini juga turut hadir dalam acara bertema “Bringing the Best of Indonesian Women”, IWF 2018 merupakan paket lengkap yang memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi dan situasi terkini yang terkait pengembangan bisnis, karier, serta isu-isu penting perempuan dan gender. Di dalamnya ada rangkaian konferensi, workshops (masterclass) dan festival produk lokal yang ditujukan bagi para wanita karier dan wirausaha.

“Acara ini akan menjadi ajang pertemuan wanita bekerja terbesar di Indonesia dengan estimasi peserta dan pengunjung lebih dari 1.000 wanita per hari,” ungkap Petty S. Fatimah, Pemimpin Redaksi Femina dan Direktur Muda Pengembangan Editorial Femina Group.

Keseluruhan rangkaian konferensi dan workshop akan bertempat di Ciputra Artpreneur Jakarta. Kegiatan berawal di pagi hari dengan sesi konferesi. Seusai konferensi, peserta dapat memilih belajar lebih dalam melalui kelas-kelas masterclass. Ada tidak kurang dari 17 masterclass dengan para pembicara dan praktisi hebat dengan topik-topik pembelajaran yang menjawab tantangan usaha dan kerja di era industry 4.0. Daftar tema diskusi panel dalam konferensi dan topik-topik masterclass, akan disertakan secara terpisah.

Teks : Boni Pramudya, dari sumber internet www.femina.co.id
Foto : Mitra Prasetya

Live Painting “Tribute to 100 Years Hendra Gunawan” di Asian Para Games 2018

Jakarta, 7 Oktober 2018 – Kegiatan Asian Para Games 2018 menjadi momentum bagi Ciputra Artpreneur untuk mendukung para seniman penyandang disabilitas dalam hal publikasi karya-karya seni yang berkualitas kepada masyarakat luas. Dukungan ini terlihat melalui kolaborasi antara INAPGOC, Artbut.ID, dan Ciputra Artpreneur dalam kegiatan live painting bertema “Tribute To 100 Years Hendra Gunawan ” yang berlangsung di Plaza Timur Stadion Gelora Bung Karno, pada 6-13 Oktober 2018.

Menurut Presiden Direktur Ciputra Artpreneur Jakarta, Rina Ciputra Sastrawinata, Asian Para Games ini merupakan momentum penting yang harus dimanfaatkan para penyandang disabilitas untuk menunjukkan bahwa mereka juga mampu untuk mencetak prestasi yang positif. Prestasi ini bisa dilakukan dalam berbagai bidang, sesuai dengan bakat dan talenta masing-masing.

Rina menyampaikan bahwa Ciputra Artpreneur sebagai sebuah lembaga yang fokus untuk mengembangkan bidang seni dan budaya, tentunya juga wajib peduli untuk mendukung dan memfasilitasi para penyandang disabilitas yang mempunyai prestasi di bidang seni. Dukungan tersebut kemudian diwujudkan melalui kolaborasi antara INAPGOC, Artbrut ID dan Ciputra Artpreneur mengadakan kegiatan live painting “Tribute To 100 Years Hendra Gunawan “.

“Apalagi objeknya adalah lukisan dari maestro seni Indonesia, yakni Hendra Gunawan, yang mayoritas karyanya dikoleksi oleh ayah saya Dr (HC) Ir Ciputra. Dalam hal ini, tentunya kita sangat mendukung kegiatan live painting seperti ini,” kata Rina.

Nawa Tunggal, salah satu penggagas dan koordinator acara live painting “Tribute To 100 Years Hendra Gunawan ” berpendapat senada. Menurut dia, Asian Para Games 2018 di Indonesia menjadi momentum penting bagi komunitas penyandang disabilitas neurotransmiter untuk menunjukkan eksistensinya kepada masyarakat. Salah satu penyandang disabilitas neurotransmitter yang difasilitasi adalah Dwi Putra yang akrab disapa Pakwi.

“Selain itu juga ada beberapa komunitas yang tergabung di Art Brut.ID yang juga ingin menunjukkan eksistensinya dalam menghasilkan karya seni berkualitas. Khusus untuk Pakwi ini punya ketertarikan yang sangat kuat terhadap lukisan-lukisan Hendra Gunawan yang memang punya tema sosial kuat,” kata Nawa yang juga penggiat di Artbrut.ID ini.

Menpora Imam Nahrawi pun mengunjungi booth Ciputra Artpreneur pada Minggu sore (7/10) dan menyaksikan live painting beberapa karya lukisan Hendra Gunawan dan Momo si maskot #AsianParaGames2018 yang telah dilukis oleh Pak Wi.

Teks : Boni Pramudya

Kemeriahan Konser “Tanda Mata” Glenn Fredly

Jakarta, 3 Oktober 2018 – Konser “Tanda Mata Glenn Fredly Untuk Yovie Widianto” telah berjalan sukses pada Minggu malam, 30 September 2018, di Ciputra Artpreneur. Konser yang berlangsung selama 3,5 jam ini menampilkan beberapa musisi dari berbagai generasi, mulai dari generasi musisi senior hingga musisi milenial antara lain Grace Simon, Harvey Malaihollo, Ikang Fawzi, Marcello Tahitoe, Gerald Situmorang, Eva Celia, Iwa K, serta musisi muda Kafin Sulthan dan Woro Mustiko.

“Tanda Mata” merupakan konser tahunan yang diselenggarakan oleh Glenn Fredly sebagai bentuk apresiasi Glenn terhadap karya-karya musisi Indonesia. Sebelumnya konser “Tanda Mata” diperuntukkan bagi Slank dan Ruth Sahanaya. Tahun ini, Tanda Mata dipersembahkan untuk Yovie Widianto, sebagai musisi yang menghasilkan karya lagu-lagu pop tentang cinta.

“Lagu-lagu Yovie itu bukan hanya mempengaruhi saya dalam dalam berkarya, tapi lagu-lagu cinta Yovie ini adalah bentuk langsung mengenai apa yang terjadi, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar. At the same time, ini menjadi pesan cinta buat banyak orang. Saya sepakat sama Yovie, lagu cinta itu lagu yang tidak akan pernah ada habisnya dilekang masa. Cinta itu banyak angle-nya, saat bicara tentang cinta kita pasti bicara yang menghidupi, memberikan inspirasi”, ungkap Glenn saat menjelaskan mengenai “Konser Tanda Mata Untuk Yovie Widianto”.

Konser “Tanda Mata” kali ini berbarengan dengan ulang tahun Glenn Fredly. Sebanyak 22 lagu Yovie Widianto dinyanyikan oleh Glenn Fredly antara lain “Katakan Saja”, “Juwita”, “Cerita Cinta”, “Satu Mimpiku”, dan “Andai Dia Tahu”. Beberapa musisi Indonesia pun turut hadir menyaksikan konser Tanda Mata ini, seperti Bunga Citra Lestari, Aura Kasih, dan Ryan – vokalis band D’Masiv.

(Teks : Trinita Novita, Fotografer : Fauzan Azhima)

Konser Journey of Syahrini Sukses Digelar di Ciputra Artpreneur

Jakarta, 20 September 2018 – 10 tahun sudah perjalanan karir Syahrini di industri musik Indonesia. Kesuksesan karir musiknya ini dirayakan dengan pagelaran konser Journey of Syahrini (JOS) 10 Tahun Jambul Khatulistiwa pada Kamis, 20 September 2018 di Ciputra Artpreneur Theater. Konser ini berlangsung sukses, meriah dan dihadiri lebih dari 1.000 penggemar dari dalam dan luar negeri.

Syahrini atau yang juga biasa disapa ‘Princess Syahrini’ atau ‘Incess’ ini membawakan sekitar 20 lagu, berkolaborasi dengan beberapa musisi ternama Indonesia, seperti Rendy Pandugo, Tompi, dan Glenn Fredly. Beberapa lagu yang sempat populer seperti ‘Jangan Memilih’, ‘Gubrak Gubrak Jeng Jeng Jeng’, ‘Sesuatu’ dinyanyikan di konser tunggalnya, membuat lebih dari 1.000 penonton ikut melantunkan lirik lagu tersebut.

Fashion yang dipakai Syahrini pun terlihat cetar membahana. Syahrini dibalut dengan pakaian dengan desain yang luar biasa megah dari beberapa desainer ternama Indonesia, Sebastian Gunawan, Didi Budiarjo, Eddy Betty, dan Rinaldy Yunardi, desainer aksesoris yang baru-baru ini mendesain mahkota untuk Madonna di acara Met Gala 2018.

(Teks : Trinita Novita, Foto : Mitra Prasetya)

“Elle Style Awards 2018” Digelar di Ciputra Artpreneur

Jakarta, 18 September 2018 – Even akbar “Elle Style Awards 2018” digelar di Ciputra Artpreneur Jakarta, Jumat (14/9). Acara ini menampilkan kegiatan fashion show dan pemberian penghargaan kepada para insan yang memiliki kontribusi di bidang seni, fashion, dan lifestyle.

Acara tersebut dimulai pukul 20.00 melalui proses registrasi di Gallery 1 dan Gallery 2 Ciputra Artpreneur. Lalu pada pukul 20.30, segenap tamu undangan mulai memasuki ruang acara utama, yakni di Gallery 3 Ciputra Artpreneur Jakarta.

Berikut adalah daftar lengkap penerima penghargaan even “Elle Style Awards 2018” :

 

Actress of the Year : Marsha Timothy
Actor of the Year : Iko Uwais
Musician of the Year : Dipa Barus
Artist of the Year : Mulyana Mogus
Photographer of the Year : Hilarius Jason
Model of the Year : Laras Sekar
Fashion People of the Year : Ira Kwa
Makeup Artist (Foreo) : Bubah Alfian
Emerging Brand of the Year : TANGAN
Accessories Designer of the Year : Litany
Designer of the Year : Toton Januar
Outstanding Contribution to Fashion : Susan Budihardjo
Inspiring Woman of the Year : Alamanda Shantika
Outstanding Achievement : Retno L.P. Marsudi
Lifetime Achievement : Maria Farida

Di acara tersebut, Presiden Direktur Ciputra Artpreneur Jakarta Rina Ciputra Sastrawinata berkenan memberikan plakat dan piagam penghargaan kepada Susan Budihardjo. Acara pemberian penghargaan tersebut berakhir sekitar pukul 21.30, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan after-party.

 

(Teks : Boni Pramudya, Foto : Mitra Prasetya)